Kamis, 28 Januari 2010

Tiada senyum lagi di sekolah


Sejak adanya program sertifikasi guru, seharusnya guru-guru sekarang ini bisa tersenyum dengan jaminan gaji dua kali lipat, tidak akan ada lagi guru yang nyambi ngojek atau jadi pemulung. Namun pada kenyataannya sejak program sertifikasi itu diadakan, guru-guru seolah-olah kehilangan senyum diwajah mereka. Sejak pengusulan fortofolio, diklat, hingga setelah sertifikat guru profesional itu didapatkan. Wajah-wajah stress, kelelahan, iri dengki, putus asa, curiga-mencurigai, tuduh sana-tuduh sini. Hawa disekolah terasa panas. Tiada lagi tegur sapa, dan tawa canda di ruang guru. Semua pada sibuk. Memang dengan beban kerja 24 jam tidak ada lagi guru yang bisa santai dan ongkang-ongkang kaki di sekolah. Namun bagi guru-guru yang ditempatkan disekolah yang minim kelas minim murid, mau tidak mau harus honor di sekolah tetangga, untuk di kota besar ini akan menyingkirkan guru honorer yang ada, bagi yang sekolahnya nun jauh dipedesaan untuk memenuhi kuota kerja 24 jam itu musti menempuh jarak puluhan kilo, tidak hanya makan tenaga juga memakan biaya yang tidak sedikit, apalah artinya gaji dua kali lipat kalau ternyata ongkos transport bertambah dua kali lipat juga? Belum lagi masalah intern di satu sekolah, bagi guru-guru yang mata pelajarannya memang banyak setiap minggu tidak jadi masalah bagaimana dengan guru-guru yang mata pelajarannya cuma diajarkan dua jam saja satu minggu dan cuma ada tiga kelas di sekolah? Ada pula mata pelajaran yang diajarkan banyak setiap minggunya dan ada dua guru mata pelajaran itu yang telah sertifikasi? Guru-guru itu ngotot-ngototan mencaplok jam mengajar guru yang lain. Belum lagi guru-guru yang belum masuk sertifikasi walaupun bertugas sudah puluhan tahun karena belum mencapai standar pendidikan S1, sedang ada yang guru yang lebih muda sudah mendapatkan sertifikat?

Sejatinya Sertifikasi guru membuat guru-guru tersenyum, faktanya sulit mencari guru-guru sertifikasi yang tersenyum yang ada wajah-wajah lelah, tegang, cemberut. Tiada lagi tawa canda dan kebersamaan diantara mereka, yang ada hanya sindir-menyindir, curiga-mencurigai,sakit hati, dendam. Teringat salah satu percakapan di film The devil wears prada saat kehidupan pribadimu hancur bersiaplah untuk promosi. Akankah sikap profesional yang diemban guru-guru sertifikasi mengorbankan interaksi sosial diantara mereka? Ataukah guru-guru kita belum siap untuk menjadi profesional?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih buat teman-teman yang sudah berkomentar