Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2016

WORKSHOP BUBBLES OF LOVE BY LILY DAWIS

Minggu, 5 Juni kemarin aku dan Icha berkesempatan mengikuti Workshop yang diselenggarakan OakTree Banjarmasin, lembaga kursus Bahasa Inggris untuk toddlers, kids, primary school, kebetulan managing directornya sahabatku sendiri Ibu Ika Budiwanti Patte.

 Setelah sukses menyelenggarakan workshop Bubbles of Love di Bekasi dan Balikpapan, sekarang giliran Banjarmasin mendapat kesempatan mengadakan workshop ini di Hotel Tree Park. Setengah sembilan peserta workshop berdatangan, guru-guru TK dan Paud, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan anak-anaknya, bahkan ada yang boyongan seluruh keluarga. Sebelumnya kita photobooth dulu yang dilombakan sebagai best photo di facebook dan IG.

Tepat pukul 9 acara dimulai dengan sambutan Bu Ika bagaimana perkenalannya dengan Bu Lily Dawis yang akhirnya bekerja sama, buku dan lagu-lagu di bubbles of love jadi salah satu bahan ajar di Oak Tree.

 Bu Lily Dawis terpanggil hatinya untuk membuat bubbles of love lantaran prihatin dengan lagu-lagu yang disukai anak-anak sekarang kebanyakan lagu orang dewasa dengan lirik yang tidak sesuai bagi anak-anak, sebagai Ibu tiga anak dan lulusan Cum Laude dari Barkeley University, Ibu Lily berkolaborasi dengan musisi kondang salah satunya James F Sundah, pakar psikologi anak membuat buku, lagu, dan kegiatan yang tujuannya merangsang kreatifitas anak, mendorong otot motorik anak untuk berkembang maksimal dengan melakukan gerakan-gerakan menyenangkan sekaligus menciptakan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak. Makanya workshop ini diadakan tidak hanya diperuntukkan untuk guru saja tapi juga bagi orang tua dan anak.
 
3 jam keseruan tidak terasa dengan lagu-lagu yang mudah diingat dan musik yang easy listening dengan tema-tema yang tak jauh dari kehidupan anak-anak dan tentu saja mengedukasi sekaligus belajar bahasa Inggris karena buku dan lagu-lagu bubbles of love menggunakan dual language, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ibu Lily juga mencotohkan gerakan-gerakan saat menyanyikan lagu-lagu tersebut tidak hanya membuat anak-anak gembira tapi juga berolahraga bagi ibu-ibu dan Bapak-Bapak...hehehe...ini perlu banget buat orang seperti aku yang malas gerak. Tidak hanya itu dalam workshop ini juga juga diadakan lomba mewarna dan crafting membuat kipas yang diikuti oleh semua peserta, Alhamdulilah Icha menang lomba mewarnai juara ke dua.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah peserta terbaik, peserta yang datang paling awal,peserta yang datang bersama anggota keluarga terbanyak dan tentu saja undian doorprize dari sponsor yang bikin ngiler, voucher dari OakTree, Maybank, Ultima II, Hori....dan buanyak lagi, belum lagi goodie back cantik dari OakTree, membuat semua peserta happy, sudah dapat ilmu, happy bersama anak, dapat hadiah lagi. Terima kasih buat sahabatku Ika Budiwanti Patte dan Oak Treenya, Lilia Agustiani selaku pimpinan Growing Smart Center dan tentu saja Bu Lily Dawis dengan buku dan lagu-lagunya yang menginspirasi anak dan orang tua di Indonesia dengan diadakannya workshop ini.
    Sambutan dari Bu Ika selaku CEO OakTree
                                     I bu Lily Dawis sharing mengapa dia menciptakan Bubbles of Love

                                                        Goodie bag dari Oak Tree I ❤ it
                                                   Menyanyikan lagu strolling around the house
                                                          Icha serius sekali mewarnanya

                                                              Crafting membuat kipas
 Icha juara II mewarna foto bareng dengan pemenang lainnya, Bu Lilia, Bu Lily Dawis dan Bu Ika
 
                                Terima kasih Bu Lily Dawis dan Bu Ika, Icha suka buku dan CDnya

Kamis, 28 Januari 2010

Tiada senyum lagi di sekolah


Sejak adanya program sertifikasi guru, seharusnya guru-guru sekarang ini bisa tersenyum dengan jaminan gaji dua kali lipat, tidak akan ada lagi guru yang nyambi ngojek atau jadi pemulung. Namun pada kenyataannya sejak program sertifikasi itu diadakan, guru-guru seolah-olah kehilangan senyum diwajah mereka. Sejak pengusulan fortofolio, diklat, hingga setelah sertifikat guru profesional itu didapatkan. Wajah-wajah stress, kelelahan, iri dengki, putus asa, curiga-mencurigai, tuduh sana-tuduh sini. Hawa disekolah terasa panas. Tiada lagi tegur sapa, dan tawa canda di ruang guru. Semua pada sibuk. Memang dengan beban kerja 24 jam tidak ada lagi guru yang bisa santai dan ongkang-ongkang kaki di sekolah. Namun bagi guru-guru yang ditempatkan disekolah yang minim kelas minim murid, mau tidak mau harus honor di sekolah tetangga, untuk di kota besar ini akan menyingkirkan guru honorer yang ada, bagi yang sekolahnya nun jauh dipedesaan untuk memenuhi kuota kerja 24 jam itu musti menempuh jarak puluhan kilo, tidak hanya makan tenaga juga memakan biaya yang tidak sedikit, apalah artinya gaji dua kali lipat kalau ternyata ongkos transport bertambah dua kali lipat juga? Belum lagi masalah intern di satu sekolah, bagi guru-guru yang mata pelajarannya memang banyak setiap minggu tidak jadi masalah bagaimana dengan guru-guru yang mata pelajarannya cuma diajarkan dua jam saja satu minggu dan cuma ada tiga kelas di sekolah? Ada pula mata pelajaran yang diajarkan banyak setiap minggunya dan ada dua guru mata pelajaran itu yang telah sertifikasi? Guru-guru itu ngotot-ngototan mencaplok jam mengajar guru yang lain. Belum lagi guru-guru yang belum masuk sertifikasi walaupun bertugas sudah puluhan tahun karena belum mencapai standar pendidikan S1, sedang ada yang guru yang lebih muda sudah mendapatkan sertifikat?

Sejatinya Sertifikasi guru membuat guru-guru tersenyum, faktanya sulit mencari guru-guru sertifikasi yang tersenyum yang ada wajah-wajah lelah, tegang, cemberut. Tiada lagi tawa canda dan kebersamaan diantara mereka, yang ada hanya sindir-menyindir, curiga-mencurigai,sakit hati, dendam. Teringat salah satu percakapan di film The devil wears prada saat kehidupan pribadimu hancur bersiaplah untuk promosi. Akankah sikap profesional yang diemban guru-guru sertifikasi mengorbankan interaksi sosial diantara mereka? Ataukah guru-guru kita belum siap untuk menjadi profesional?